Beranda Sosial Budaya

Bau Nyale, Memburu Putri Mandalika Di Pantai Laut Selatan Sumbawa

547
0

Sumbawa Besar-Bau nyale yang merupakan tradisi masyarakat pulau Lombok yang sudah turun temurun dilakukan oleh warga masyarakat yang ada di pulau Lombok.

Dalam tradisi bau nyale ini, ratusan orang tumpah ruah didalam laut menangkap nyale atau cacing laut di sepanjang pantai.

Miskipun nyale yang dikenal di pulau lombok ini,namun tahun ini bau nyale juga dilakukan oleh masyarakat pulau sumbawa di pantai Laut selatan Desa Emang Lestari kecamatan Lunyuk kabupaten sumbawa.

Ratusan warga yang berdatangan dari luar kota sumbawa sedari siang hari sudah mulai menunggu diseoanjang bibir pantai dengan segala persiapan alat untuk menangkap nyale atau cacing laut ini.

Cacing-cacing laut ini dikenal oleh masyarakat pulau lombok dengan sebutan nyale, yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Mandalika dikenal sebagai putri cantik yang memilih menceburkan diri ke laut lepas, menghindari peperangan antar pangeran yang memperebutkan dirinya pada zaman kerajaan dahulu kala.

Legenda Putri Mandalika ini dikenal hampir di seluruh penjuru Pulau Lombok. Meskipun belum ada lontar Lombok yang ditemukan mengenai Mandalika yang melegenda tersebut.

Tradisi bau nyale ini tidak dilakukan setiap hari atau setiap bulannya melainkan ada waktu tertentu warga menangkap nyale atau cacing laut tersebut.

Adapun waktu kemunculan nyale ini setahun sekali pada setiap bulan februari saja dan tidak ada disemua pantai kemunculan nyale ini seperti di pantai laut selatan desa emang lestari.

Ratusan warga yang sudah berkumpul dari siang hari menunggu malam hari tiba untuk menanti kemunculan cacing laut yang digulung oleh ombak dan dihempas ke pinggir karena bau nyale ini tidak bisa dilakukan disiang hari karena cacing laut ini cuma bisa dilihat dimalam hari saja.

Setelah malam hari tiba ratusan orang siap dengan Lampu penerang sederhana dan dinyalakan. Jaring-jaring beragam bentuk dan ukuran telah disiapkan dan siap bergerak mengikuti arah air laut yang tersapu ombak Pantai laut selatan membawa cacing-cacing laut beragam warna. Ada merah, hijau, dan kuning.

Seolah ingin membuktikan janji Putri Mandalika, ratusan orang yang telah berkumpul, menyebar. Ada yang memilih tepi bebatuan pantai, menunggu nyale mengeliat mendekati kaki mereka. Ada juga yang menerjang ombak dan meraup ribuan cacing jelmaan sang putri cantik.

Menurut salah seorang warga yang datang jauh-jauh dari pulau lombok Ali Mursidin disela-sela menangkap nyale jum’at (14/02/2020) mengatakan Ini tradisi turun temurun, setahun sekali kami temukan. Setahun sekali kami bertemu Putri Mandalika,” Ali,

Dalam melakukan penangkapan nyale ini,Ali mengingatkan, saat memburu nyale harus sabar dan tak mudah putus asa agar tangkapan banyak.

Ia menceritakan tradisi bau nyale adalah tradisi menangkap cacing laut, yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika, seorang putri cantik yang menceburkan dirinya ke laut lepas, karena tak menginginkan pertempuran antar pangeran yang memperebutkan dirinya.

Di setiap tanggal 20, bulan 10, penanggalan Suku Sasak, ribuan masyarakat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, merayakan tradisi Bau Nyale.

Inilah nyale, cacing laut, yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Mandalika adalah seorang putri cantik yang menceburkan dirinya ke laut lepas, karena tak menginginkan pertempuran antar pangeran yang memperebutkan dirinya.

Mereka yang memburu cacing laut dari berbagai usia. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki maupun perempuan, tak ada batasan.

Mereka memiliki hasrat yang sama, menemukan jelmaan Putri Mandalika itu. Kegiatan ini pun membuat warga larut dalam kegembiraan.

Nyale warna warni ini juga dikenal mengandung protein yang tinggi sehingga sangat nikmat dan layak dikosumsi, apalagi hanya bisa dinikmati setahun sekali. Nyale juga dipercaya menyuburkan tanaman terutama padi.

“Saya dapat nyale banyak, ini akan saya kosumsi bersama keluarga, setahun sekali, makan nyale saya akan pepes ini,” tutur Ali sambil menunjukkan hasil tangkapannya yang mencapai satu ember.

Mereka yang masih bertahan di pantai, memilih memepes nyale dengan daun kelapa. Aroma nyale pun tersebar mengikuti arah angin, dan sebagian warga menikmati pepes nyale bersama orang-orang tercinta mereka dirumah.

Sementara itu,Deni Murdani selaku kepala Desa Emang lestari yang juga ikut melakukan penangkapan nyale atau cacing laut dengan ratusan warga lainnya mengatakan,bahwa kegiatan bau nyale ini dijadikan ajanh rekreasi bersama kelurganya.

Kegitan nyale ini sangat jarang dilakukan mengingat cuma setahun sekali,selain menjadi ajang rekreasi bersama keluarga,momen bau nyale ini juga dujadikan menjadi salah satu hiburan ngumpul bareng orang-orang yang datang dari luar kecamatan lunyuk.

“bau nyale ini sangat asyik dan berbeda dari tradisi lainnya,selain kita dapat berkumpul dengan orang-lain yang berdatangan dari luar daerah,kegiatan ini juga menambah keakraban antar sesama barbau menjadi satu dan bergembira bersama -sama,”ujar kades.

Lebih kanjut ia mengatakan,miskipun derasnya ombak laut pantai selatan lunyuk menghantam,namun tidak menyurutkan tekar para pemburu cacing laut tersebut agar bisa mengumpulkan sebanyak mungkin hasil buruannya.

Selain bisa menikmati kelezatan cacing laut ini,ia beserta ratusan orang didalam air secara berlomba-lomba menangkap nyale yang dibawa oleh ombak ke pinggiran,menurutnya,ada beberapa warga juga ikut menjual hasil tangkapannya.

“momen bau nyale ini selain untuk dikonsumsi sendiri,ada juga warga yang menjual hasil tangkapannya dengan harga yang berpariasi,berarti momen bau nyale ini bisa juga sebagai menambah ekonomi masyarakat,”ujar Deni.

Tahun depan ai barharap akan lebih ramai lagi orang yang datang untuk melakukan penangkapan nyale di kecamatan lunyuk agar kedepannya lunyuk bisa dikenal lagi akan alam dan keindahan pantai laut selatannya.(bs/aj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here